Sabtu, 06 Agustus 2016

Bendera yang Tercabik


Cerpen: Er El Em* 





JUMAT, 15 Agustus 2003, pada waktu yang sudah saya lupa. Satu-satunya wajah alam yang masih saya ingat kala itu ialah langit yang memerah, tampak juga sedikit kekuningan. Gemawan yang tercecer seolah membentuk jari-jari yang mencelupkan diri dalam wadah benderang yang agung, lalu terpencar. Matahari senja itu perlahan menghilang di punggung Inerie. Yah, Inerie, puncak dari segala rindu. Kami sedang dalam perjalanan pulang dari kebun. Setengah karung kakao ada di kepala Mama, di tangannya ia menggenggam setumpuk pucuk labu jepang. Sedang saya, di pundak bertahta seikat kayu bakar. Lumayan beratnya. Sepanjang jalan berbatu menuju kampung itu, saya sempat bertanya tentang batas kebun kami. Mama menjawab seadanya, lalu ganti menasihati. “Vian, Mama sudah lihat nilai rapormu. Mengapa nilai Matematika jatuh?” Saya menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya satu-satu. Burung-burung malam mulai bernyanyi. “Saya sudah bilang berkali-kali Ma, saya agak sulit belajar Matematika. Ibu Teresia juga selalu cubit telinga saya, tapi syukur, saya bisa naik kelas, kan Ma?” “Waktu Bapak masih hidup, ia selalu bermimpi bahwa anak-anaknya harus sukses. Suatu malam, ia jatuh sakit, sakitnya keras sekali. Kata dukun kampung sebelah, ada orang yang tidak suka pada Bapak. Akhirnya, Bapak mati. Mama sedang mengandung Aplin, adikmu itu. Sebelum mengembuskan nafas terakhirnya, dengan suara yang hampir tak kedengaran, Bapak masih mengingatkan Mama untuk memperhatikan sekolah kalian.” Sudut mata saya menangkap gerak tangan Mama yang menyeka matanya. Saya biarkan saja itu terjadi. Kadang, di hadapan sebuah kesedihan, manusia harus diam. Diam, hening, sembari merapal sepucuk doa.

            Kampung Dona mulai sepi. Lampu-lampu di tiap rumah mulai dinyalakan. Kami akhirnya tiba juga di rumah. Aplin, adik perempuan saya yang baru berumur 5 tahun berlari-lari kecil menjemput Mama. Dari dalam karung kakao itu Mama mengeluarkan beberapa buah markisa. Arplin girangnya bukan main. Di dapur, Oma Vero sedang merebus ubi. Aromanya kian menggoda rasa lapar saya. Saya tidak bisa menunggu terlalu lama untuk itu. Saya makan dengan lahapnya.

                Saking nikmatnya ubi rebus dan kopi buatan Oma itu, saya terkejut karena Mama sudah selesai mandi. Di dekat tungku api, ia sedang menyisir rambutnya yang hitam dan panjang. Oleh pantulan lidah-lidah api yang berkobar, Mama tampak begitu elok. Pantasan, Bapak tidak membiarkan begitu saja Mama jatuh ke pelukan laki-laki lain. Aplin telah terpekur di pangkuan Oma, Oma sibuk dengan sirih dan pinangnya. “Vian, apel 17 Agustus nanti, kalian apel di mana?” Pertanyaan Mama yang tiba-tiba itu membuat saya berhenti makan. Saya nyaris tidak ingat lagi akan hal itu. “Aduhhh...Mama, syukur Mama bertanya tentang apel itu. Tadi waktu pengumuman sebelum pulang sekolah, Ibu Teresia berpesan bahwa esok kami libur. Kami harus siapkan pakaian seragam, kaus kaki, sepatu, dan topi. Mama sudah siap, kan?” Saya begitu berapi-api. Mama diam. Suasana hening untuk beberapa saat. Akhirnya, Oma angkat bicara. Dalam bahasa daerah, dengan suara yang tenang, Oma mengulang pertanyaan saya tadi kepada Mama. Sepi kembali menyelimuti kami. Saya menanti dalam gelisah yang purna. “Vian, Mama tahu, pasti Vian akan marah. Mama harus jujur karena Mama belum sempat membeli seragam yang baru untuk Vian. Uang yang Mama tabung, sudah dipakai untuk arisan bulan lalu. Mama tidak berani memberitahukan hal ini pada hari-hari kemarin. Mama takut Vian kecewa....!” Ubi dan kopi yang masih tersisa sekejap terasa begitu hambar di lidah saya. Kelopak yang menahan tumpukan air mata akhirnya rubuh. Saya tinggalkan Mama, Oma, dan Aplin, lari menuju peti kayu di kamar Mama. Air mata yang masih mengalir deras saya biarkan membasahi pipi yang belum dicuci. Saya merasakan kekecewaan yang luar biasa. Bayangan akan kejadian yang saya alami 3 tahun silam kembali mengiris-iris hati kecil saya.

*******

  

[Sumber gambar:
https://www.google.com/search?q=bendera+merah-putih+yang+tercabik&client=firefox-b-ab&biw=1366&bih=641&tbm=isch&source=lnms&sa=X&ved=0ahUKEwjxquC9-a3OAhXML48KHYOpATIQ_AUIBigB#imgrc=kOXV-TkID1pyTM%3A.]


 

            Halaman SDK Dona, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebu’u, Kabupaten Ngada bagaikan hamparan tulang-tulang putih dibalut daging memerah. Dari samping dapur rumah kami yang terletak di tempat yang agak tinggi, saya melihat sebuah suasana yang membuat saya tidak bisa menunggu Mama terlalu lama. Waktu itu saya masih duduk di bangku kelas III, belum juga menerima Komuni Pertama. “Mama, saya duluan...!” Saya berseru sambil berlari menuruni bukit kecil itu menuju sekolah. Jambu biji yang saya petik dari kebun di depan rumah Om Endi saya gigit sekali saja lalu saya buang. 

            Teman-teman kelas III telah siap dalam barisan. Saya menyusup dan menempati bagian tengah. Topi merah saya betulkan, sipit-sipit saya lihat Ibu Teresia, kepala sekolah dan guru Matematika yang kejam itu, muncul. Menggunakan lawo jara ngura, Mama telah ada di barisan para orangtua dan wali. Apel 17 Agustus memperingati HUT Kemerdekaan RI pada tahun 2000 itu akan segera dimulai. Suasana hikmat, mentari mulai meninggi. Merah-Putih pun dikibarkan, ‘Indonesia Raya’ dinyanyikan. Gema yang dahsyat memenuhi seluruh kampung. Semangat dan gegap-gempita rupanya masih berurat akar dalam dada warga sekolah dan orang-orang di kampung kami ini. Sebuah kampung kecil di daerah terpencil, jauh dari sentuhan modernitas. Bagaikan serpihan kaca yang terpental tapi masih mampu memantulkan sinar rembulan malam. 

            Tibalah saatnya Pembina Upacara memberikan sambutan. Para siswi dan siswa yang tidak tahan disengat matahari memilih untuk berteduh di bawah rindang beberapa pohon advokat yang ada. Saya dan beberapa teman sekelas juga mendengarkan Ibu Teresia dari rindang pohon advokat. “Para orangtua/wali, Negara kita, Indonesia sudah merdeka bertahun-tahun......” Suara Guru Matematika yang kejam itu mulai meninggi. “...tapi, sesuai pengamatan saya, banyak dari siswi dan siswa SDK Dona masih memakai seragam yang robek di sana-sini, penuh noda, dan kekurangan kancing.........!” Masing-masing kami saling menoleh. Lima pasang mata teman-teman tertuju pada saya. Bagaikan sebilah pedang dihunuskan pada perut saya, teman-teman ramai-ramai berseru, “Ini Bu..... Vian ini Bu...... kerak baju seragamnya robek, penuh noda...........!!!!! Hahahahaha........!!!!!!!!!!” Sesaat, bumi saya rasakan seperti sedang berguncang hebat, kepala mengeras, urat-urat menyusut, jantung berdegup kencang sekali. Saya berlari menuju Mama, ratusan pasang mata seolah mencemooh, menertawakan, meneror. Pada lawo jara ngura itu saya membenamkan wajah, saya telah kehilangan segala-galanya...........

*******

            Seragam lama yang telah saya keluarkan dari peti kayu di kamar Mama itu saya banting ke tanah. Saya mengoyak-ngoyakkannya sambil air mata terus gugur. Luka yang tertoreh 3 tahun silam kembali mendesah, kembali menganga, merembeskan darah pilu dan malu yang sungguh. Malam itu, saya tidur tanpa terlebih dahulu mandi. Tersedu-sedu di balik selimut, saya akhirnya lelap. Tengah malam, tangan Mama saya rasakan sedang memeluk. Mengingat-ingat tragedi itu, ditambah status saya yang kini duduk di bangku kelas VI, dan apel 17 Agustus dua hari lagi yang akan terjadi di lapangan kecamatan, membuat saya ingin lekas lelap lagi. Sesaat saya rasakan amarah yang memanas pada Mama. 

*******

            Truk kayu berhenti tepat di depan rumah. Aplin, yang sudah bertumbuh gadis sedang menyiram petak-petak yang ditanami lombok. Saya tidak melihat Mama dan Oma, begitu pula mereka bertiga tidak tahu bahwa hari itu saya pulang. Saya memberi salam, Aplin terkejut, melepas begitu saja ember berisi air, lalu berlari ke arah saya dan memeluk erat-erat. “Mama, Oma... Kaka Vian pulang....!!!!!” Aplin kegirangan. Sambil berlari-lari kecil, Mama keluar dari dapur. Uban pada rambutnya semakin menjadi. Oma tetap di dapur, usia yang makin senja mengharuskan ia untuk tidak banyak bergerak. Saya memeluk Mama, lalu mencium Oma. Agar lebih leluasa berceritera, saya putuskan untuk menyimpan tas dan mengganti pakaian di kamar Mama. Setibanya saya di kamar Mama, sinar matahari yang menyelinap, jatuh tepat di sudut tempat Mama menyimpan Patung Bunda Maria. Di samping patung, saya mendapati sesuatu yang aneh. Bendera Merah-Putih yang diikat pada sebuah kayu kecil. Bedera itu seperti telah tercabik-cabik, mungkin oleh ngengat dan gigitan tikus. 

            Sambil menenteng sebuah amplop besar, saya kembali ke dapur. Oma, Mama, dan Aplin kelihatan tidak percaya, sangat-sangat tidak percaya karena dari dalam amplop itu saya mengeluarkan lembaran yudisium, piagam penghargaan sebagai lulusan terbaik S1 Matematika dengan predikat cum laude pada Universitas Nusa Cendana-Kupang tahun 2014 ini, dan sebuah foto wisuda. Seperti tak mau memberi kesempatan pada mereka untuk bertutur sesuatu, saya lanjut bertanya. “Mama, apa maksud bendera Merah-Putih di samping patung di kamar Mama itu?”  Dua hari lagi, apel 17 Agustus 2014 akan digelar di lapangan Kecamatan Jerebu’u. Mama menjawab pelan, “Bendera itu Mama jahit dari pakaian seragam yang Vian buang dan Vian robek-robek, 11 tahun yang lalu....!” Saya melepas amplop itu, di pangkuan Mama, saya menangis sejadi-jadinya. Malam itu, hujan turun deras sekali. Di surga, Bapak turut meneteskan air mata bersama kami. 

*******

            Tibalah waktunya bagi saya untuk kembali ke Kupang, menjawabi panggilan mendadak. Bendera yang tercabik itu saya simpan baik-baik dalam amplop bersama berkas-berkas lainnya. Di sudut hati yang paling sunyi, sambil mata terpejam, “Dirgahayu Republik Indonesia Tercinta...!” *** 




-Agustinus, Ledalero, 6 Agustus 2015- 


Keterangan:  
-lawo (kain adat bagi perempuan Bajawa),  
-jara (kuda),  
-ngura (biru),
-lawo jara ngura (kain adat dengan motif kuda berbenang biru).




[Cerita ini pernah dimuat dalam Flores Pos, edisi dan halaman yang sudah saya lupa. Waktu membacanya kembali, mata saya berkaca-kaca. Andai kau ada di posisi saya. Yang menulis cerita ini. Yang merasakan getaran ini!]                            
                 
 

Sabtu, 25 Juni 2016

Dari, Oleh, dan Untuk Nian Tana Sikka




  • Komunitas #KAHE (Sastra Nian Tana)
  • Membangkitkan Kembali Sastra dalam Keseharian Hidup
  • Masa Muda adalah Masa Kreatif untuk Membawa Perubahan

Pada mulanya adalah gagasan. Gagasan itu ada dan berkeliaran dalam benak dan hati hampir semua orang muda itu. Yah, gagasan tentang terbentuknya sebuah wadah, tepatnya sebuah komunitas yang memberi penekanan pada sastra. Mengapa sastra? Jawabannya jelas, bahwa sastra telah ada sejak dahulu, kini, dan nanti sampai kekal. Selain itu, bahwa sastra sebetulnya sangat dekat dengan keseharian hidup setiap orang, dan bahwa sadar atau tidak, hampir setiap hari setiap orang bersastra. Dan yang tak kalah peting ialah bahwa lama belakangan ini, sastra sepertinya tidak punya tempat di tengah masyarakat.

Komunitas #KAHE (Sastra Nian Tana)
Terinspirasi dari berdiri dan hidupnya komunitas-komunitas sastra yang berada di daerah lain, beberapa orang muda Nian Tana Sikka mulai berkumpul, dan terkejut bahwa sebetulnya gagasan-gagasana mereka sama. Sebagai tindak lanjutnya, pada pertengahan Juni 2015, sebuah Grup Facebook bernama ‘Sastra Nian Tana’ dibuat. Promosi mulai gencar dilakukan, ajakan demi ajakan untuk bergabung terus disuarakan, sehingga dari hari ke hari, anggota yang bergabung semakin menanjak. Namun, kemudian disadari bahwa kendatipun teknologi internet telah berkembang amat pesat, sebuah komunitas yang ideal tidak hanya tinggal diam di dunia maya. Dan memang, sampai saat itu, para anggota yang tergabung dalam ‘Sastra Nian Tana’ belum sekali pun bersua rupa, bertukar pikir, berbagi tutur, juga merajut ide. Sebuah pertemuan atau kopdar (kopi daratan, artinya berkumpul bersama) memang harus betul-betul digelar.
Adalah Rizal, Valentino, dan Eka yang pada malam itu benar-benar bebas dari kesibukkan dan berkesempatan untuk bersua. Di taman Patung Teka Iku, ketiga orang muda ini mulai ‘menggila’, sampai-sampai beberapa pengunjung yang sama-sama berada di taman itu merasa sedikit ‘terusik’. Bicara sana bicara sini, baca puisi satu pindah puisi lain, tertawa ini tertawa itu, tibalah mereka pada sebuah permenungan yang amat serius, yakni soal nama yang lebih cocok bagi, tepatnya untuk melengkapi ‘Sastra Nian Tana’. Dari antara banyak ide, ‘Ringkik’ awalnya cukup menarik. Ketiganya terbahak sendiri. Geli, lucu. Alasannya jelas, pertemuan itu terjadi di bawah Patung Kuda dan Penunggangnya. Yah, kuda yang me-‘Ringkik’, yang perkasa, yang gagah, berani. Namun, filosofi ‘Ringkik’ masih amat kurang untuk mendasari sebuah komunitas yang insya Allah akan berkembang pesat nantinya. Untuk itu, mesti ada satu nama yang punya arti mendalam, yang betul-betul berakar dari langit-bumi Nian Tana Sikka, yang berdaya menjiwai, yang memiliki kekuatan yang mengikat. Maka, sampailah mereka pada ‘Semacam Pekikan, Seruan, Kebesaran’ yang dalam bahasa daerah disebut: KAHE..! Ketiganya terdiam sejenak. Ketiganya telah menemukan roh, yah, roh yang menggelora dalam batin. Jadilah, ‘Sastra Nian Tana’ pada waktu itu juga membaptis dirinya menjadi Komunitas #KAHE (Sastra Nian Tana), yang resmi lahir malam itu, 24 Oktober 2015. 

Membangkitkan Kembali Sastra dalam Keseharian Hidup
KAHE...! ternyata betul-betul menginspirasi, tidak hanya enak dalam penyebutannya, tetapi serentak membentangkan filosofi yang amat mendalam. Yah, dari rahim Sikka dan oleh orang-orang muda yang terlanjur jatuh cinta pada Sikka dan sastra. Sejak saat itu, kopdar demi kopdar mulai digiatkan. Cafe Sonia pun menjadi semacam ‘ibu’ baru bagi geliat sastra yang semakin menjadi dalam Komunitas #KAHE (Sastra Nian Tana).
Sejauh ini, sudah ada beberapa kegiatan kesusastraan yang dihidupi. Para anggota sudah mulai dengan diskusi sastra, memilih tokoh atau sastrawan tertentu, seorang anggota komunitas diminta menyiapkan profil atau tafsiran atau sejenisnya, lalu dipresentasi dan didiskusikan. Joko Pinurbo menjadi tokoh pertama yang dipilih. Diskusi dilangsungkan di Cafe Sonia, diawali, disisipi, dan diakhiri dengan membacakan puisi-puisi karya Jokpin. Lalu, tokoh kedua yang diulas ialah Kahlil Gibran. Bertempat di Magepanda, Minggu (28/02/2016), seluruh anggota Komunitas #KAHE (Sastra Nian Tana) bertolak menuju kediaman Hengky Ola Sura (Magepanda: sebelah utara Kota Maumere). Selain mendiskusikan Gibran, Komunitas #KAHE (Sastra Nian Tana) juga mengapresiasi ‘Catatan Kenangan’ (2015), buku antologi puisi karya Hengky. Puisi-puisi Hengky dibacakan di sela-sela diskusi.
Selain diskusi sastra di antara anggota, Radio Sonia FM juga memberikan kesempatan kepada Komunitas #KAHE (Sastra Nian Tana) untuk mengisi sesi Sastra dan Budaya setiap Rabu malam. Berawal dari syering pengalaman menulis kreatif bersama Dicky Senda (cerpenis NTT), Komunitas #KAHE (Sastra Nian Tana) selalu konsisten tampil di Sonia. Tokoh-tokoh sastra yang telah didiskusikan, kembali disiarkan pada kesempatan itu. Selain itu, Budaya dan Sastra Lokal juga mulai dihidupi. Untuk sementara, inilah kiranya sumbangan Komunitas #KAHE (Sastra Nian Tana) teruntuk Nian Tana Sikka.


Masa Muda adalah Masa Kreatif untuk Membawa Perubahan
            Saya suka mengutip Karl Marx, bahwasannya, sebagaimana filsafat, sastra atau komunitas sastra (ini tambahan saya) mestilah revolusioner, sebab jika tidak, itu sama halnya dengan menimbun kebohongan. Nama positif lain dari revolusioner ialah membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Komunitas #KAHE (Sastra Nian Tana) telah menyatakan itu, dengan tidak nyaman dalam menara gadingnya sendiri. Pada 14 Februari 2016, #KAHE diundang untuk ikut serta dalam Acara Valentine Bersama di Cafe Sonia. Pelbagai komunitas seni diundang dan #KAHE ikut ambil bagian lalu mulai dikenal luas. Lalu, pada 21 Februari 2016, #KAHE juga diundang untuk berpartisipasi memperingati Hari Sampah Nasional. Di bawah koordinasi Gerakan Pemuda Peduli Sampah-Maumere, #KAHE dan komunitas-komunitas lain terlibat dalam pembersihan pantai Wairhubing. Dan informasi terakhir, #KAHE turut diundang untuk ikut serta dalam KESAL (Kupang pEStA monoLog) yang diselenggarakan oleh sebuah komunitas di Kupang, pada pertengahan Maret mendatang.
            Pertanyaan penting di bagian akhir ini, apa itu masa muda dan mau diisi dengan apa masa muda itu? Sudah saatnya aneka omong kosong yang selama ini dibuat mesti dihentikan. Sikka punya orang-orang muda yang kreatif, yang tekun, yang gigih, yang mempunyai cara mencintai yang khas. Sejauh ini, dalam rilis terakhir, para anggota yang tergabung dalam Komunitas #KAHE (Sastra Nian Tana) di antaranya imam/pastor, aktivis lingkungan hidup, kaum peduli sampah, pakar hukum di PHB NUSRA, guru, crew Radio Sonia FM, editor video, fotografer, traveller, jurnalis, wartawan, dan sejumlah mahasiswa pionir dari STFK Ledalero. Besar harapan #KAHE, akan semakin banyak anggota yang bergabung, yakni dari kalangan bidan, perawat, dokter, dosen, teman-teman mahasiswi/a dari kampus lain, sopir, konjak, tukang ojek, teman-teman difabel, maupun para ODHA dan narapidana sekalipun. Komunitas #KAHE (Sastra Nian Tana) akan selalu terbuka lebar, karena #KAHE adalah dari, oleh, dan untuk Nian Tana Sikka. Bravo...! KAHE.....!***


________________________
*Pernah dimuat dalam salah satu edisi Pos Kupang Minggu, sebagaimana ditampilkan dalam gambar di atas.
-Er El Em

Rabu, 22 Juni 2016

Be’a: ‘Surga’ yang Masih Sepi Pengunjung


- Situs Wisata Budaya


Kampung Adat Be'a yang dipotret dari Bheto Padhi dengan latar belakang jurang (Jerebu'u) dan bebukitan yang mengelilingi Jerebu'u. Gunung Inerie juga dapat dinikmati sambil minum kopi atau makan sirih-pinang 
dari Kampung Adat Be’a.




Jika berbicara mengenai sasaran wisata yang berada di Bajawa, Kabupaten Ngada, Flores-NTT, pikiran bahkan imajinasi khalayak (wisatawati/wan lokal, domestik, maupun asing) tentu saja digiring menuju Kampung Adat Bena dan Pemandian Air Panas So’a. Memang, keduanya seperti telah menjadi ikon wisata bagi Bajawa, kota dingin yang selalu diselimuti kabut. Namun, bila ditelusuri lebih jauh, ternyata bukan hanya Bena dan So’a. Ada pun begitu banyak kampung adat yang tersebar di wilayah Ngada, baik di Aimere, Jerebu’u, Golewa, Riung, maupun Bajawa itu sendiri. Berikut ini, saya sajikan informasi singkat mengenai Kampung Adat Be’a.

Sa'o atau rumah adat yang berjejer rapih.




Sebelum Kecamatan Golewa mekar, secara administratif, Be’a merupakan bagian dari Desa Rakateda I, Kelurahan Mangulewa, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada. Setelah Golewa mekar, Be’a bergabung dalam Desa Be’a Pawe, Kecamatan Golewa Barat, bersama Bheto Padhi dan Welu (Pawe). Berdasarkan posisi, dari arah Mangulewa, Be’a terletak setelah Welu dan Bheto Padhi; sedangkan dari arah Nage, Jerebu’u, Be’a berada pada posisi pertama (jalur ini belum maksimal, sedang dalam pengerjaan) dan dari arah Bena, Jerebu’u, Be’a berada di sisi kanan Bheto Padhi. Be’a berada di posisi paling rendah, berbentuk seperti angka 8, Be’a A dan B.




Tiga buah 'Bhaga' mewakili banyak 'Bhaga' lainnya, yang diyakini sebagai perwujudan dari leluruh perempuan.



Umumnya, cuaca dan iklim di Be’a sama seperti di Mataloko, Kota Bajawa, dan sekitar Kota Bajawa, berbeda dengan Riung dan Aimere yang terletak di pesisir pantai. Mata pencaharian utama masyarakat Be’a ialah bertani dan berladang, sambil memelihara ternak. Pesta adat Reba diadakan setiap akhir bulan Desember, sedangkan Ka Sa’o (renovasi rumah adat dan penghormatan pada leluhur) dan ritual adat lainnya ditetapkan sesuai keputusan masing-masing suku. Hospitalitas atau keramahan masyarakat Be’a sangat tinggi, prinsip ‘tamu adalah raja’ masih berlaku di sana. Di samping itu, ikatan kekeluargaan-persaudaraan (modhe ne’e hoga woe, meku ne’e doa delu) masih sangat kental, gotong-royong (se boge kita riu roe, se kepo kita nari nedo atau su’u papa suru, sa’a papa laka), dan keberakaran pada budaya masih kuat tertanam. 



Tiga buah 'Ngadhu' mewakili banyak 'Ngadhu' lainnya, yang diyakini sebagai perwujudan dari leluhur laki-laki.




Salah satu model tangga masuk menuju Sa'o.
 


            Be’a itu memang ‘surga’ yang masih sepi pengunjung lantaran sangat jarang dipromosikan. Sebagaimana kampung adat lainnya, Be’a juga memiliki buku tamu. Hanya saja, tidak sebanding dengan Bena, Wogo, atau Gurusina dalam jumlah wisatawati/wan yang berkunjung. Sekiranya melalui sajian ini, mata para pelancong mulai mengarah ke sana. Saya pastikan, tetap ada yang mampu memikat dan membekas dari Be’a, ‘surga’ yang sepi itu. Oh ya, sebelum lupa, sering-seringlah ke Be’a, siapa tahu, nenek-moyang merestui hubungan kita.***  


Jagung (sebagai salah satu komoditi) yang dijemur, dengan latar belakang bubungan Sa’o dan Gunung Inerie.




                                                                 Bebatuan ceper yang tersusun di tengah kampung.




Tanduk kerbau dan rahang babi yang digantung, salah satu simbol kewibawaan.



Sejumlah ibu yang sedang tekun menampih beras dalam sebuah hajatan, contoh kerja sama yang masih kuat.




Kuburan gaya lama yang terdapat di halaman Sa'o.





________________
**Promosi Situs Wisata ini pernah dimuat dalam Warta Flobamora, Edisi 36, Januari 2016, hlm. 26.

- teks dan gambar: Er El Em dan _korokodjo photography_